|
Beberapa hari ini Amerika Serikat yang dikatakan sebagai Negara Super Power dengan kekuatan pondasi ekonominya dan sebagai mahaguru raksasa keuangan global harus menelan getir pahitnya kondisi perekonomian negara itu. Setelah didera oleh topan badai Gustav dan Ine kini negara adidaya tersebut didera oleh 'Tsunami Finansial' yaitu runtuhnya lembaga institusi keuangan Amerika yang terkenal Wall Street.
Perusahaan sekuritas terkenal dan tertua di Wall Street, Lehman Brothers bangkrut.
Imbasnya berdampak pada American Insurance General (AIG), salah satu
penjual obligasi terbitan Lehman Brothers.
Imbas kebangkrutan Lehman pada AIG, antara lain, terkait transaksi
credit default swaps (CDS). Ini adalah instrumen pelapis risiko jika
obligasi yang dibeli investor atau perusahaan tidak bisa dibayar
penerbitnya (default). AIG menjual CDS terkait obligasi terbitan
Lehman. Imbas kasus Lehman tidak saja kepada AIG, tetapi juga
menimbulkan kepanikan investor global yang memegang CDS terbitan
perusahaan lain.
Selain Lehman, Merrill Lynch harus merelakan diri diakuisisi oleh
perusahaan yang menjadi rivalnya selama ini, Bank of America. Dua bank
investasi yang masih tersisa, Morgan Stanley dan Goldman Sachs,
kemungkinan juga akan dipaksa merger dengan bank lain guna menghindari
nasib serupa.
Pemerintah juga dipaksa menalangi dan Federal Reserve harus menjadi
lender of resort (penjamin likuiditas terakhir perbankan) sejumlah
raksasa bank investasi, lembaga sekuritas atau perusahaan asuransi, dan
penjamin kredit yang rontok satu per satu, mulai dari Bear Stearns,
Fannie Mae dan Freddie Mac, IndyMac, hingga American International
Group (AIG), karena alasan risiko sistemik. UBS, bank tabungan, dan
bank kredit terbesar Washington Mutual juga di ujung tanduk. Hingga
sekarang belum ditemukan investor penyuntik modal.
Di Inggris, sejauh ini sudah ada dua bank Inggris yang kolaps, HBOS
dan bank kredit Halifax Bank. Keruntuhan fondasi keuangan Wall Street juga berdampak sangat
destruktif pada perekonomian AS, pasar finansial, dan perekonomian
global.
Menurut Direktur Pelaksana IMF Dominique Strauss-Kahn, kerugian akibat
krisis keuangan mencapai 1 triliun dollar AS. Sejauh ini, kerugian yang
terlihat baru 350 miliar dollar AS.
Rontoknya institusi Wall Street menunjukkan kerapuhan fondasi hegemoni
sistem kapitalisme AS dengan Wall Street sebagai pilar utamanya. Ironis memang karena lembaga keuangan global Wall Street itu menjadi bahan studi yang disusun Harvard Business Review dan diajarkan di sekolah- sekolah bisnis karena reputasi mereka.
Apa keuntungan dari kejadian ini? Yang jelas harga minyak dunia mulai turun karena membuat para investor tidak berani berspekulasi.
referensi :
http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/09/18/01472435/lehman.getarkan.korporasi.global
http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/09/19/02131598/rontoknya.institusi.wall.street
|