|
Sumidjan Bersyukur Aib itu Terbongkar
Sumidjan dan Hamzah MD beberapa waktu lalu mendatangi gedung KPK. Ia meminta agar kasus KKN di Bontang, dituntaskan
Senin, 3/3/2008 | 13:08 WIB
PERAIH penghargaan Tiga Pilar Kemitraan Award,
Sumidjan, mengaku bersyukur atas terungkapnya kasus suap yang menimpa
jaksa Urip Tri Gunawan (UTG). Kenapa lelaki itu bersyukur? Ternyata,
Sumidjan mengaku jengkel dengan sikap Jampidsus Kemas Yahya Rahman yang
dianggap tidak mengakomodir aspirasi yang hendak disampaikannya. Beberapa
pekan lalu, Sumidjan sengaja datang ke gedung Kejaksaan Agung bersama
Hamzah MD --sang koruptor insyaf dari Bontang-- dan puluhan aktivis
lainnya, terkait dengan kasus KKN di Bontang yang tak juga
dibongkar-bongkar kejaksaan. Padahal, Sumidjan sudah berulangkali
menyerahkan berkas-berkas berisi data-data pendukung ke Kejaksaan
Agung. "Nah ketika kami mau menghadap, Pak Kemas katanya mau sembayang
dulu. Setelah kami tunggu, ternyata enggak muncul juga," ungkapnya. Gara-gara
itu, hati Sumidjan dan Hamzah MD merasa kesal. Ia kecewa berat karena
Kemas tak mau menerimanya. "Sebagai rakyat kecil, hati saya benar-benar
terpukul. Maksud saya kan ingin menciptakan pemerintahan yang bersih
dengan membantu Kejaksaan Agung. Tapi tanggapan mereka seperti itu,"
kenang Sumidjan, Walikota Lira, Bontang ketika dihubungi Persda Network via telepon.
Atas
kekecawaan itu, Sumidjan dan Hamzah MD mengaku segera berdoa. Ia
memohon kepada Tuhan agar para jaksa bekerja profesional dan
menggunakan hati nuraninya. "Terus terang, kami sempat berdoa agar
Tuhan membukakan mata hati mereka. Dan sekarang aib itu sudah
terbongkar. Tuhan Maha Besar.... Coba saja, lihat apa yang akan terjadi
kepada mereka ke depan nanti jika mereka tidak mengunakan hati nurani.
Hukum alam pasti berjalan...dan Tuhan akan membongkar aib mereka cepat
atau lambat," kata Sumidjan.
Menurut Sumidjan, dengan
terungkapnya kasus penyuapan terhadap jaksa UTG, menunjukkan bahwa
lembaga Kejaksaan Agung benar-benar tidak kredibel di mata masyarakat.
"Dugaan-dugaan itu ternyata bukan isapan jempol. Sekarang terserah
mereka. Jabatan itu amanah dan pasti akan dimintai pertanggung jawaban
di depan Tuhan. Siapapun yang menyelewengkan jabatan, berarti ia telah
menipu Tuhan, menipu dirinya, menipu rakyat dan menipu negara.
Konsekuensinya jelas dan hukum alam akan bicara," jelas Sumidjan.
Ia
berharap, ke depan para pejabat negara yang mendapatkan kepercayaan
dari rakyat, benar-benar memegang teguh amanah yang diberikan
kepadanya. "Mengapa? Secuil uang rakyat yang diselewengkan, berarti
kita sama dengan menipu ratusan juta penduduk Indonesia. Lalu bagaimana
cara meminta maaf kepada rakyat? Apakah cukup memasang iklan permintaan
maaf di koran setahun sekali? Saya hanya berharap kepada mereka-mereka
yang sedang menjabat agar memikirkan nasib anak istri mereka. Kalau aib
sudah dibuka, bagaimana perasaan istri dan anak-anak mereka ya?"
tanyanya. (Persda Network/BEC)
|